Jum, 18 Okt 2019
 



Historical Sights

 

Historical Sights

Yogyakarta memiliki kisah sejarah yang teramat penting berkenaan dengan peran Yogyakarta dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia pada zaman kolonial Belanda, zaman penjajahan Jepang, maupun pada zaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Hal ini menyebabkan Yogyakarta sering disebut sebagai kota perjuangan dan kota revolusiKota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa revolusi. Antara awal tahun 1946 sampai akhir tahun 1949, selama lebih kurang empat tahun, Yogyakarta menjadi Ibukota Negara RI. Pada masa itu para pimpinan bangsa Indonesia berkumpul di kota perjuangan ini.  

Yogyakarta memiliki sejarah yang panjang dan terkait erat dengan masa perjuangan merebut dan mempertahankan RI dari penjajah Belanda dan Jepang. Salah satu perjuangan besar adalah serangan umum 1 Maret 1949. Serangan tersebut dilakukan secara secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman.

Sumber Gambar: http://fundaysmile.blogspot.com/2011/11/kota-kota-cantik-di-indonesia.html (diakses tanggal 31 Agustus 2012)

 

 


City of Culture

 

City of Culture

 

Sebutan kota kebudayaan berkaitan erat dengan peninggalan-peninggalan budaya bernilai tinggi semasa kerajaan-kerajaan yang sampai kini masih tetap lestari. Sebutan ini juga berkaitan dengan banyaknya pusat-pusat seni dan budaya. Di Kota Yogyakarta, terdapat beberapa gedung tua peninggalan zaman kolonial Belanda, seperti gedung kantor pos dan Bank Indonesia. Terdapat juga museum Benteng Vredeburg yang merupakan benteng peninggalan Belanda. Pada masa itu, benteng ini berfungsi sebagai markas tentara Belanda. 

Selain itu, juga terdapat bangunan yang menjadi simbol budaya kesultanan atau kerajaan, seperti Keraton Yogyakarta, Tamansari, dan Kompleks Makam Pendiri Kerajaan. Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Tidak jauh dari keraton, terdapat situs bekas taman istana keraton yang dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758 yaitu Tamansari. Di dalam taman ini terdapat kolam pemandian, tempat sakral, dan masjid bawah tanah. Selanjutnya, terdapat kompleks makam pendiri Kerajaan Mataram Islam yang dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh. Gapura kompleks makam ini memiliki ciri arsitektur Hindu. 

Sumber Gambar: http://theclassicme.blogspot.com/2009/11/jogjakarta-first-destination-in.html (diakses tanggal 31 Agusutus 2012)

 


Miniature of Indonesia

 

Miniature of Indonesia


Yogyakarta merupakan suatu provinsi yang eksotis dan berkarakter unik. Yogyakarta memiliki peluang untuk menjadi miniatur Indonesia. Hal ini ditandai dengan keberadaan Yogyakarta sebagai kota pendidikan yang berkembang dengan multikulturalisme.

Predikat sebagai kota pelajar berkaitan dengan sejarah dan peran kota ini dalam dunia pendidikan di Indonesia. Berbagai pendidikan di setiap jenjang pendidikan tersedia di Provinsi Yogyakarta ini, sehingga banyak terdapat mahasiswa dan pelajar dari seluruh daerah di Indonesia. Dalam hal ini, walaupun terdapat banyak pendatang dari luar daerah, namun Yogyakarta memiliki masyarakat yang memiliki tengang rasa tinggi terhadap sesama. Hal inilah yang menyebabkan Yogyakarta dapat berkembang sebagai kota yang menghargai multikulturalisme. Multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun agama. Multikulturalisme menjadi semacam respons terhadap keragaman yang ada.

Sumber Gambar: http://www.rileks.com/details/1102/ayo-kita-ramaikan-jogja-java-carnival- (diakses tanggal 31 Agustus 2012)

 


The Premier Tourist City in Java


The Premier Tourist City in Java

 

Sebutan Yogyakarta sebagai kota pariwisata menggambarkan potensi provinsi ini sangat besar dalam kacamata kepariwisataan. Yogyakarta sering disebut sebagai daerah tujuan wisata di Indonesia terbesar kedua setelah Bali. Berbagai jenis obyek wisata dikembangkan di wilayah ini, seperti wisata alam, wisata sejarah, dan wisata budaya. Kota Yogyakarta juga dikenal sebagai sentra kerajinan Kasongan (salah satu kerajinan gerabah), sentra kerajinan perhiasan perak dan sentra produksi batik. 

Kawasan wisata yang menjadi obyek wisata di Yogyakarta antara lain adalah Malioboro, Pasar Beringharjo, Pantai Parangtritis, dan Candi Prambanan. Malioboro merupakan koridor pusat belanja dan wisata kuliner dengan suasana dan nuansa yang kental dan khas. Pasar Beringharjo menjadi bagian dari Malioboro yang sayang untuk dilewatkan, yang merupakan sentra penjualan batik dan oleh-oleh khas Yogyakarta. Selanjutnya Pantai Parangtritis, merupakan pantai dengan angka kunjungan teratas dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya. Pantai Parangtritis ini memiliki daya tarik tersendiri dengan keindahan pantainya dan juga diyakini sangat erat kaitannya dengan legenda Nyi Roro Kidul. Sedangkan obyek wisata Candi Prambanan, merupakan candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, yang memiliki keindahan eksotis. Candi yang dibangun abad ke-9 ini sangat erat kaitannya dengan legenda Roro Jonggrang. Keindahan serta kerumitan arsitektur Candi Prambanan telah menobatkannya sebagai situs warisan dunia tahun 1991 oleh UNESCO.

Sumber Gambar: http://andhikawardhana.blogspot.com/2011/02/bukan-sembarang-nama.html (diakses tanggal 31 Agustus 2012)

 


Gudeg City

 

Gudeg City


Sejak puluhan tahun yang lalu, gudeg merupakan kuliner khas Yogyakarta yang paling banyak dicari. Gudeg Jogja berbahan dasar Gori atau nangka muda. Gudeg Jogja berbeda dengan gudeg yang lain karena tidak berkuah, dengan rasa yang manis dan gurih. Gudeg dapat dinikmati hampir di seluruh sudut Kota Yogyakarta, atau dapat langsung dinikmati di Kampung Wijilan, sebagai kampung di mana pertama kali resep dan gudeg jogja dibuat.

Sumber Gambar: http://www.iannnews.com/Culinary.php?kat=4&hal=9&bid=3389 (diakses tanggal 31 Agustus 2012)